Jumat, 23 November 2007

Pak Ketua

Jalan Mulus Pak Ketua (Catatan Ringan dari Konvensi PG Rohil)
Oleh admin
Selasa, 24-Januari-2006, 02:15:15
2 klik


Oleh: Asmari Rahman
Sebuah lembaga survei independen yang ditunjuk oleh DPP Partai Golkar, (PG) telah merekomendasikan lima nama yang berhak mengikuti konvensi Partai Golkar di Kabupaten Rokan Hilir. Hasil konvensi tersebutlah nantinya yang akan ditetapkan sebagai calon bupati yang akan diusung oleh PG dalam pemilihan kepala daerah (Pilkada) Rohil.
Satu dari lima nama tersebut adalah Anas Ma’mun, Ketua DPD PG Rohil. Terpilihnya Anas sebagai peserta konvensi tentulah hal yang lumrah terjadi, karena ia pemegang teraju partai berlambang pohon beringin itu. Tapi pemunculan empat nama lainnya menjadi menarik untuk disimak, dan menyisakan pertanyaan, dari mana sesungguhnya lembaga independen itu memulai surveinya ?
Ilyas RB misalnya, yang saat ini menjabat sebagai Wakil Bupati Rohil. Pada Pilkada lima tahun lalu, di dalam lembaga legislatif, ia dicalonkan PDI Perjuangan, dan saat ini sedang ditimbang ulang oleh partai yang sama untuk dicalonkan sebagai Bupati Rohil. Awalnya Bung Ilyas memanglah seorang kader Golkar (dulu dari jalur Birokrasi mengingat beliau adalah seorang PNS), tapi sekarang sudah jauh dari PG dan sedang merajut tali kemesraan dengan PDI Perjuangan. Tidak hanya itu, ia juga dekat dengan PKB, mengingat ia juga Ketua Nahdlatul Ulama Kabupaten Rohil, sebuah organisasi yang membidani kelahiran PKB.
Kemudian ada Rusli Effendi, anggota DPRD Provinsi Riau dan Ketua Partai Persatuan Pembangunan Rohil. Ada pula nama Herman Sani, seorang PNS yang mengabdi di Bappeda Provinsi Riau. Figur yang satu ini betul-betul tidak ada bau kunyit serainya dengan Golkar, bahkan sempat diisukan akan diusung oleh Partai Persatuan Pembangunan untuk bertarung dalam Pilkada, tapi masuk dalam daftar peserta konvensi yang direkomendasi oleh lembaga survei independen tersebut.
Yang menjadi pertanyaan adalah, ke mana sesungguhnya lembaga survei ini merujuk? Sehingga muncul nama-nama yang tidak capable dan acseptable di mata kader Golkar Rohil, kecuali Anas Ma‘mun? Sang ke-tua yang mahir melobi dan piawai memetik dawai gambus politik, se-hingga peserta tari dan penonton di panggung politik Rohil menari bak berjalan di atas papan terjungkit.
Pak Ketua mengerti betul, bahwa Rapat Pimpinan PG Rohil tak mungkin memilih selain namanya, karena pesaingnya dalam konvensi adalah orang-orang yang berada di luar rumah tangga PG. Ini tidak bisa dinafikan lagi, terlebih-lebih pembinaan ke Pimpinan Kecamatan selama ini cu-kup intensif dilakukan Pak Ketua.
Sesungguhnya masyarakat Rohil tengah menunggu dan berharap agar PG dapat melahirkan calon pemimpin yang berkualitas. Justru itulah kiranya selain Anas Ma‘mun, hendaknya tampil juga kader-kader muda Golkar yang potensial dalam konvensi tersebut, sehingga pemunculan nama calon Bupati Rohil dari PG benar-benar telah melalui sebuah proses demokrasi dan menghasilkan keputusan yang bernas.
Tapi apa lacur, lembaga survei independen telah merekomendasikan lima nama. Tapi dari lima nama tersebut hanya Anas Ma‘mun satu-satunya yang benar-benar kader PG, sedangkan empat tokoh lainnya ha-nyalah peserta luar pagar belaka.
Dalam era reformasi ini, sesungguhnya sah-sah saja menerima fi-gur lain yang bukan kader partai, dan itu memang sangat diharapkan. Tapi bagi partai besar seperti PG Rohil, apakah sudah tidak punya kader yang lain lagi selain Anas, sehingga Anas terpaksa tampil sendiri dalam konvensi? Apakah mungkin hanya Anas Ma‘mun sendiri yang layak tampil dan laku dijual, sehingga peserta konvensi PG Rohil didominasi orang-orang dari luar partai?
Jika peserta konvensi menampilkan orang-orang berada di luar PG yang independen (non partisan), mungkin dapat kita pahami sebagai upaya untuk memberi peluang kepada calon-calon pemimpin yang berada di luar partai politik, tapi toh itu juga tidak dilakukan. Apakah ini berarti bahwa PG dengan sadar dan sengaja melakukan hal ini guna memuluskan jalan bagi sang ketua? Karena bersaing dengan sesama kader sangat membahayakan bagi kelangsungan pencalonannya sebagai Bupati Rohil mendatang? Itulah barangkali perlu diatur langkah sejak awal, agar nama-nama yang masuk sebagai peserta konvensi adalah orang-orang yang tidak berpotensi mengganggu pencalonannya.
Jika dugaan ini benar adanya, maka sesungguhnya perlu dikaji u-lang peristiwa dan pengalaman pahit yang dialami oleh PG pada Pilkada di beberapa daerah tahun lalu, di mana calon-calon yang diajukan PG, bergelimpangan menuai kekalahan. Dan esbagai partai besar dan berpengalaman, hal ini amatlah disayangkan.
Memang selain keempat pesaing yang telah disebutkan di atas, ada lagi nama Suyatno, . seorang PNS di Rohil yang sejak awal memang sudah dipersiapkan untuk mendampingi sang ketua maju ke gelanggang pertarungan Pilkada. Jadi bagi sang ke-tua tidak ada kekhawatiran sedikitpun bahwa Suyatno akan memotong di tikungan.
Survei telah berakhir, dilanjutkan dengan Rapimda, yang tak lain memunculkan nama Anas Ma‘mun yang dipilih oleh 97 persen peserta Rapim. Melengganglah ‘Pak Ketua’ sebagai calon Bupati Rokan Hilir pada Pilkada bulan April 2006.
Pertanyaan berikutnya adalah, mampukah Anas Ma‘mun meraih suara terbanyak Pilkada tersebut? Inilah yang perlu direnungkan oleh segenap pimpinan dan kader PG di Rhil. Pertarungan mendatang bukan lagi pertarungan memperebutkan pe-rahu partai, tapi pertarungan merebut hati rakyat Rohil yang terdiri dari berbagai golongan, suku, agama, tingkat kecerdasan dan tingkat kesejahteraan, serta memiliki banyak kepentingan pula. Banyak hal yang akan menjadi tolok ukur bagi pemilih dalam menetapkan pilihannya.
Satu hal yang sangat krusial adalah letak Ibu Kota Kabupaten. Mungkin bagi masyarakat Tanah Putih dan sekitarnya akan berkutat dengan per-tanyaan, kapan Ibu Kota Rohil pindah ke Ujung Tanjung? Pertanyaan lain akan diajukan oleh pemilih dari Bagan Siapiapi dan sekitarnya, apakah Ibu Kota Rohil akan dipindahkan ke Ujung Tanjung? Pertanyaan pelik menyangkut kepentingan rakyat banyak dan elite partai juga akan bermunculan, apalagi jika dikaitkan dengan isu kegagalan Pemkab Rohil sekarang yang membuahkan suara sumbang “kembali ke kabupaten induk”.
Pak Ketua perlu menyadari sepen-uhnya, memimpin Rohil ke depan, se-perti mendaki bukit yang terjal dengan beban berat di pundak. Semuanya akan menguras tenaga dan pikiran, serta akan menyita waktu. Bagi penulis, inilah kekhawatiran yang paling besar, mengingat usia Pak Ketua yang sudah tidak muda lagi.***

Asmari Rahman,
Putra Rokan Hilir, saat ini Bermastautin di Pekanbaru

1 komentar:

  • Ass...
    saya adalah Tia Gutira...
    anak kedua dari bapak Asmari Rahman...
    sebuah kebahagiaan terbesar dalam hidup saya dan 3 saudara saya yang lain bisa memiliki ayah dan ibu seperti beliau...
    dari kecil ayah slalu mengajari kami anak2nya untuk dapat hidup mandiri...
    dan alhamdulillah...
    kini anak2 ayah dan mama telah menjadi anak2 yang sholeha, yang memeiliki uswatun khasanah, yang cerdas, yang mandiri...
    banyak hal yang ayah dan mama beri hingga kami seperti sekarang...
    dan saya yakin, tidak ada ayah seperti ayah kami...
    dan tidak ada ibu seperti mama kami...
    they are "THE BEST PARENTS IN THIS WORLD"
    semoga ayah dan mama sehat selalu dan selalu dalam lindunganNya...
    amin...

    By : angah_maniezz
    NB : Yah, akhirnya tia berhasil juga bwt komentar bwt ayah...:-)

    28 November 2007 pukul 18.14